Ketentuan Puasa setelah Nisfu Syaban

by | Feb 25, 2024 | Info

Dikutip dari buku Fikih Ibadah Madzhab Syafi’i karya Alauddin Za’tari, berpuasa pada paruh akhir bulan Syaban, atau yang dikenal sebagai Nisfu Syaban, adalah makruh.

Pendapat ini bersandar pada hadits Abu Hurairah Radiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلاَ تَصُومُوا

Artinya: “Jika tinggal separuh dari bulan Syaban, maka janganlah kalian puasa.” (HR At-Tirmidzi dan ia mengatakannya hasan shahih)

Dikutip dari buku Keagungan Rajab & Syaban karya Abdul Manan bin Haji Muhammad Sobari, berdasarkan hadits Bukhari dan Muslim, terdapat lanjutan dari perkataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tersebut.

“Jika tinggal separuh dari bulan Syaban maka janganlah kamu berpuasa (sunnah) (kecuali bagi orang yang sudah membiasakan diri puasa sunat Senin dan Kamis).” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda lagi, “Janganlah kamu mendahului puasa Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari kecuali jika bertepatan kebiasaan puasa seorang itu maka bolehlah meneruskan kebiasaan itu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan kedua hadits tersebut, orang yang puasa setelah Nisfu Syaban tidak menjadi makruh ketika puasa tersebut tersambung dengan puasa yang ia lakukan sebelumnya, walaupun satu hari. Misalnya ia berpuasa pada 15 Syaban dan masih terus berpuasa pada hari sesudahnya, maka puasanya tidak menjadi makruh.

Selain itu, puasa setelah Nisfu Syaban juga tidak menjadi makruh apabila bertepatan dengan kebiasaan puasa, misalnya puasa Senin dan Kamis.

Terakhir, puasa setelah Nisfu Syaban tidak menjadi makruh apabila puasa itu dilakukan untuk memenuhi kewajiban, misalnya mengganti puasa Ramadhan atau puasa qadha, puasa nadzar, dan sebagainya.

Berdasarkan penjelasan di atas, mengganti puasa Ramadhan atau puasa qadha setelah Nisfu Syaban diperbolehkan. Semoga artikel ini dapat bermanfaat dalam menjawab keraguan mengenai bolehkah berpuasa qadha setelah Nisfu Syaban.

Astra Website Security
×